LOGIKA PERANG AS - IRAQ
Hasil diskusi Akademisi HI-Unair Rabu, 19 Maret 2003
Ultimatum AS dalam waktu 48 jam -- berakhir kamis 20 Maret 2003 pukul 08.00 WIB -- agar Saddam memutuskan alternatif apakah harus hengkang dari Irak bersama para keluarga dan pengikut setianya atau memilih jalan perang yang akan mengeksekusinya tampaknya tidak main-main. Namun Presiden Saddam tidak bergeming sedikitpun untuk menyerah, bahkan ia bersikap menantang dengan menggelorakan tekad rakyatnya. Mengapa AS bersikukuh melakukan perang ? Mengapa Saddam -- secara kalkulasi rasional pasti kalah -- berani melawan AS ?
Logika Amerika Serikat
Jika kita perhatikan, sejak krisis awal AS lebih percaya penyelesaian militer daripada penyelesaian politik. Mengapa AS bersikukuh melakukan penyelesaian militer?
Pertama, secara nasional posisi dan prestise Presiden
George W. Bush setelah tragedi 11 September sangat merosot. Tragedi yang menghancurkan WTC -- simbol modernisasi -- dan sebagian gedung Pentagon -- simbol pertahanan militer -- menunjukkan betapa lemahnya sistim keamanan nasional. Menurut AS peristiwa ini merupakan bagian dari strategi terorisme internasional dibawah jaringan
Al-Qaidah pimpinan
Osama bin Laden. AS telah melalukan operasi terorisme dengan memberangus Afghanistan yang dianggap pusat
Al-Qaidah, tetapi sampai kini belum ada kepastian keberhasilan menangkap Osama. Presiden
Bush ingin menunjukkan pada rakyatnya dan dunia internasional bahwa pemberantasan terorisme harus terus dilakukan. Untuk ini dalam pidato kenegaraan tahunan (
state of the Union Address) di depan Kongres, ia berusaha meyakinkan rakyatnya bahwa ada kaitan antara Irak dengan Al-Qaidah. Melalui pernyataan ini diharap dapat dukungan rakyat dan opnini internasional khususnya Dewan Keamanan PBB.
Kedua, kepentingan ekonomi. Negara-negara industri sangat tergantung pada minyak, tak terkecuali AS. Sekitar dua pertiga kebutuhan industri Amerika serikat sangat tergantung pada pasokan minyak dari wilayah Timur Tengah, sementara Irak adalah penghasil minyak terbesar dari kawasan tersebut. Stabilitas negara Irak akan sangat berpengaruh pada kendali harga minyak dunia, sebaliknya Irak yang terpuruk akan melemahkan harga minyak. Selama perang memang harga minyak tidak stabil dalam arti akan melambung dan memberatkan negara industri. Tetapi dalam jangka panjang setelah perang usai, dan rezim Irak bisa dikendalikan, pengaruh AS kiranya akan lebih menguntungkan ekonomi AS dan negara liberal lainnya. Menurut logika AS, semakin singkat perang akan semakin menguntungkan, karenanya AS menjanjikan strategi perang kilat (
blietzcrieg) dalam hitungan hari. Strategi ini sesuai dengan doktrin
preemptive strike yang dikemukakan George W. Bush.
Ketiga, AS adalah super power tunggal. Seiring dengan runtuhnya perang dingin dan lemahnya Rusia, Amerika Serikat tampil sebagai kekuatan militer utama dalam percaturan global. Ia mencitrakan dirinya sebagai "polisi dunia" yang harus melakukan dekontruksi pada negara-negara yang dianggap berbahaya. Citra ini telah ditunjukkan dalam perannya sebagai pemimpin koalisi global pada
Perang Teluk tahun 1991 serta perang melawan Terorisme Global di Afghanistan. Perang atas Irak kali ini merupakan kelanjutan dari sebelumnya yang telah dilakukan oleh
George Bush --
ayah George W.Bush -- saat perang Teluk.
Keempat, berdasar pada kekuatan militer tersebut, secara realisme politik posisi dan kedudukan AS sangat kuat dibanding Irak. Posisi militer yang tidak sebanding ini menempatkan AS pada logika apapun ia akan menang perang, apalagi bila operasinya didukung para sekutunya negara-negara Eropa terutama Inggris dan sejumlah sekutunya di kawasan Teluk. Posisi
top dog dibanding Irak
under dog yang sangat timpang ini menjadikan sikap dasar agresif AS sangat kuat
Kelima, citra kampium demokrasi dan pembela hak azasi. Liberalisme adalah demokrasi. Menurut logika AS -- yang juga diikuti negara-negara Liberal -- otoritarianisme adalah musuh demokrasi yang mengekang kebebasan dan hak warga. Rezim
Saddam Husein yang telah berkuasa lebih dari tigapuluh tahun dianggap otoriter dan menyengsarakan rakyat. Lebih dari itu
Saddam adalah figur yang berani terang-terangan melawan AS bahkan berusaha menggalang negara-negara radikal di Timur Tengah menentang hegemoni AS. Figur
Saddam ini dianggap tidak hanya bertentangan dengan AS namun juga mengancam kepentingan negara-negara sekutu AS di Timur Tengah. Karenanya menurut AS, Saddam harus dijatuhkan. Usaha ini sudah cukup lama dipersiapkan secara strategis antara lain melalui embargo ekonomi dibawah PBB dan mengkoordinir serta mempersenjatai kelompok disersi militer dan oposan Irak, tetapi belum membuahkan hasil. Menurut kalkulasi AS, dengan perang -- yang diyakini menang -- kiranya akan bisa menjungkal Saddam.
Logika Irak
Akankah Saddam menyerah -- minta suaka -- sebagaimana skenario AS? Tampaknya ia tidak akan melakukannya, bahkan siap perang. Beberapa pemikiran yang mendasarinya:
Pertama, intelligen Irak telah mengetahui skenario AS bahwa bila Saddam Husein telah meninggalkan negaranya, maka akan dibentuk pemerintahan transisi oleh orang-orang yang bisa dikendalikan atau pro pada AS sampai dengan terbentuknya pemerintahan demokrasi. AS bertanggung jawab atas pulihnya stabilitas ekonomi dan politik sebagaimana diskenariokan di Afghanistan.
Kedua, prestise -- harga diri -- suatu negara merupakan kepentingan dan kedaulatan nasional secara primer. Negara akan berusaha mati-matian untuk mempertahankannya. Siapa sih yang mau kedaulatan dan kehormatannya diinjak- injak. Sekecil apapun semut, bila diinjak akan menggigit. Begitu juga Irak, meski ia merasa bersalah tetapi naluri nasionalnya tidak akan terima arogansi AS. Presiden Saddam memang kurang mendapat dukungan utuh rakyatnya, tetapi skenario diatas justru menumbuhkan semangat nasionalisme. Berulang kali Saddam menyatakan bahwa "
saya adalah warga negara Irak, lahir di Irak, akan mati di Irak demi membela tanah air". Logikanya, perang merupakan alternatif yang harus dipilih daripada harus "bertekuk lutut" dan dikendalikan AS.
Ketiga, kepemilikan senjata merupakan kebutuhan vital suatu negara.
Civic pacum parra bellum -- bila ingin damai bersiaplah perang -- merupakan refleksi bahwa keamanan dan senjata tak terpisahkan, dalam arti bila suatu negara ingin merasa aman ia harus punya senjata untuk pertahanan diri. Pemilikan senjata disatu sisi bisa menimbulkan rasa aman bagi pemiliknya, meski pada sisi lain juga bisa menjadi ancaman bagi negara lain yang merasa "terganggu" dengan kepemilikan tersebut. Bagi AS, kepemilikan senjata nuklir dan senjata pemusnah massal Irak merupakan ancaman baginya juga bagi sekutu-sekutunya terutama di wilayah Timur Tengah. Sebaliknya bagi Irak, tanpa memiliki senjata ia sangat terancam dan tidak berdaya.
Implikasi perang
Kerugian dan akibat perang akan berkepanjangan dan tidak hanya mengena pada Irak tetapi juga negara kawasan dan global. Korban materi dan jiwa -- bahkan umumnya masyarakat sipil -- takkan terhindarkan antara lain kerusakan infra struktur ekonomi dan porak-porandanya kehidupan masyarakat, bencana kelaparan, berbagai masalah kesehatan dan masalah sosial. Sementara secara regional juga akan mempengaruhi ketidakstabilan wilayah sekitar Irak karena meningkatnya gelombang pengungsi, apalagi bila perang tidak kunjung usai. Sedang pada tataran global akan memperparah resesi ekonomi dunia dan ekonomi regional maupun nasional.