Ketika kesetiaan menjadi angkuh, dan berjauh jarak dari perempuan hatinya. Sanggupkah seorang Ashmora Paria mempertahankan kehidupannya menjadi seorang lesbian? ataukah tenggelam oleh etika budaya masyarakat yang mengungkungnya?
Garis Tepi Seorang LESBIAN
Adalah cinta, yang menjadikan sesuatunya menjadi mungkin dan sangat wajar terjadi. Cinta tidak mengenal batasan, dia lesat mengarah pada titik tumpunya. Tinggal bagaimana kita mengolahnya menjadi satu sistem yang membuat kita nyaman, dan karenanya menjadikan kita mencintai Tuhan.
Sepintas, novel karya Helinatiens ini bisa jadi satu kisah cinta biasa. Protagonisnya, Ashmora Paria, dipisahkan dari kekasihnya, Rie Shiva Ashvagosha. Sementara menunggu pulang, atau paling sedikit berita keberadaan kekasihnya, Paria menjalani semua tahap yang mungkin ditimbulkan oleh penantian lama semacam itu, berkisar rindu sampai putus asa, geram dan marah. Dalam kesepiannya ia bahkan berusaha menikahi seseorang lain, tetapi akhirnya sepucuk surat dari Paris membawa berita dan menumbuhkan asa bahwa kedua kekasih itu akan berkumpul kembali. Semuanya dalam keadaan baik sehingga berakhir dengan baik.
Tetapi sejak awal sudah jelas bahwa semuanya tidak dalam keadaan baik. Karena sepasang kekasih itu sama-sama wanita, sementara keluarga, agama dan masyarakat melakukan segala sesuatu untuk mendukung cinta heteroseksual, kedua kekasih ini dikucilkan dari ornamen-ornamen masyarakat 'normal'. Novel ini bagaikan suatu jeritan kuat untuk menuntut hak dari setiap umat manusia untuk mencintai seperti apa adanya. Yang menyedihkan, cerita yang terbuka dengan begitu kuat di depan mata pembaca ini mengandung banyak unsur yang dikenal baik oleh wanita lesbian Indonesia. Kesepian itu bukan akibat suatu penyakit psikologis, tetapi dibiakkan oleh rasa jijik masyarakat.
Fenomena homoseksual telah lama ada di Indonesia, bahkan di dunia. Di Indonesia kita mengenal istilah homoseks tradisional, sampai homoseks modern. Sebenarnya tidak ada istilah tradisional dan modern karena semuanya disebabkan oleh adanya perbedaan waktu terjadinya. Biasanya dalam konstruk pikiran masyarakat, perkara lesbian dan homoseksual adalah perkara perkelaminan saja, dan kalaulah mereka menulis sesuatu pastilah bersifat "vulgar", kotor, kasar, dan hanya mengumbar emosi saja. Dalam novel "Garis Tepi Seorang LESBIAN" ini Herlinatiens tidak hendak menceritakan fenomena dunia lesbi saja, tapi terutama hendak mengungkapkan filosofi seorang lesbi dan filosofi tentang lesbi...
"Sudah aku katakan, aku melakukannya tanpa sadar, alamiah saja, sebuah penggabungan dua gender yang berbeda dalam diriku. Ya, aktifis-aktifis feminis mengatakannya transgenderisme. Ini sesuatu yang normal dan wajar. Aku tidak memandang kelesbiananku sebagai aib, dosa, penyakit atau suatu bentuk dari sakit jiwa, atau bahkan karena kekecewaan yang dalam dari seorang laki-laki. It's given. Pemberian Tuhan."
Segala sesuatu yang ada di dunia ini selalu ada sebab akibatnya yang menyebabkan demam rindu untuk mengenal atasnya. Seperti bulan yang setia mendampingi bumi, seperti tanah yang setia kita pijak.
"Hidup adalah pilihan, seperti halnya pilihan kita untuk hidup, pilihan orang tua kita untuk membiarkan kita hidup, jadi kenapa tidak kita hargai pilihan orang lain? jika memang mereka sekedar menjalani kehidupan yang diciptakan oleh Tuhan untuk mereka, sepanjang itu tidak melanggar hak-hak kita sebagai individu lain."
Adalah masyarakat yang seharusnya menerima bahwa ada banyak cara untuk mencintai secara mendalam dan tulus.
Aku adalah Ashmora Paria, seorang perempuan biasa yang terbiasa bisa. Untuk mencintai. Untuk dicintai. Untuk bercinta. Pada ketunggalan seorang Rie, Rie Shiva Ashvagosha. Perempuan dalam nalar dan perasaanku.
.........dan jarak bukanlah sesuatu yang memisahkan kita, dan waktu bukanlah sesuatu yang membuat kita alpa. Tapi jarak dan waktu adalah rantai sutra yang menjadikan cinta kita dekat dan rekat..........
Garis Tepi Seorang LESBIAN
Adalah cinta, yang menjadikan sesuatunya menjadi mungkin dan sangat wajar terjadi. Cinta tidak mengenal batasan, dia lesat mengarah pada titik tumpunya. Tinggal bagaimana kita mengolahnya menjadi satu sistem yang membuat kita nyaman, dan karenanya menjadikan kita mencintai Tuhan.
Sepintas, novel karya Helinatiens ini bisa jadi satu kisah cinta biasa. Protagonisnya, Ashmora Paria, dipisahkan dari kekasihnya, Rie Shiva Ashvagosha. Sementara menunggu pulang, atau paling sedikit berita keberadaan kekasihnya, Paria menjalani semua tahap yang mungkin ditimbulkan oleh penantian lama semacam itu, berkisar rindu sampai putus asa, geram dan marah. Dalam kesepiannya ia bahkan berusaha menikahi seseorang lain, tetapi akhirnya sepucuk surat dari Paris membawa berita dan menumbuhkan asa bahwa kedua kekasih itu akan berkumpul kembali. Semuanya dalam keadaan baik sehingga berakhir dengan baik.
Tetapi sejak awal sudah jelas bahwa semuanya tidak dalam keadaan baik. Karena sepasang kekasih itu sama-sama wanita, sementara keluarga, agama dan masyarakat melakukan segala sesuatu untuk mendukung cinta heteroseksual, kedua kekasih ini dikucilkan dari ornamen-ornamen masyarakat 'normal'. Novel ini bagaikan suatu jeritan kuat untuk menuntut hak dari setiap umat manusia untuk mencintai seperti apa adanya. Yang menyedihkan, cerita yang terbuka dengan begitu kuat di depan mata pembaca ini mengandung banyak unsur yang dikenal baik oleh wanita lesbian Indonesia. Kesepian itu bukan akibat suatu penyakit psikologis, tetapi dibiakkan oleh rasa jijik masyarakat.
Fenomena homoseksual telah lama ada di Indonesia, bahkan di dunia. Di Indonesia kita mengenal istilah homoseks tradisional, sampai homoseks modern. Sebenarnya tidak ada istilah tradisional dan modern karena semuanya disebabkan oleh adanya perbedaan waktu terjadinya. Biasanya dalam konstruk pikiran masyarakat, perkara lesbian dan homoseksual adalah perkara perkelaminan saja, dan kalaulah mereka menulis sesuatu pastilah bersifat "vulgar", kotor, kasar, dan hanya mengumbar emosi saja. Dalam novel "Garis Tepi Seorang LESBIAN" ini Herlinatiens tidak hendak menceritakan fenomena dunia lesbi saja, tapi terutama hendak mengungkapkan filosofi seorang lesbi dan filosofi tentang lesbi...
"Sudah aku katakan, aku melakukannya tanpa sadar, alamiah saja, sebuah penggabungan dua gender yang berbeda dalam diriku. Ya, aktifis-aktifis feminis mengatakannya transgenderisme. Ini sesuatu yang normal dan wajar. Aku tidak memandang kelesbiananku sebagai aib, dosa, penyakit atau suatu bentuk dari sakit jiwa, atau bahkan karena kekecewaan yang dalam dari seorang laki-laki. It's given. Pemberian Tuhan."
Segala sesuatu yang ada di dunia ini selalu ada sebab akibatnya yang menyebabkan demam rindu untuk mengenal atasnya. Seperti bulan yang setia mendampingi bumi, seperti tanah yang setia kita pijak.
"Hidup adalah pilihan, seperti halnya pilihan kita untuk hidup, pilihan orang tua kita untuk membiarkan kita hidup, jadi kenapa tidak kita hargai pilihan orang lain? jika memang mereka sekedar menjalani kehidupan yang diciptakan oleh Tuhan untuk mereka, sepanjang itu tidak melanggar hak-hak kita sebagai individu lain."
Adalah masyarakat yang seharusnya menerima bahwa ada banyak cara untuk mencintai secara mendalam dan tulus.
Aku adalah Ashmora Paria, seorang perempuan biasa yang terbiasa bisa. Untuk mencintai. Untuk dicintai. Untuk bercinta. Pada ketunggalan seorang Rie, Rie Shiva Ashvagosha. Perempuan dalam nalar dan perasaanku.
.........dan jarak bukanlah sesuatu yang memisahkan kita, dan waktu bukanlah sesuatu yang membuat kita alpa. Tapi jarak dan waktu adalah rantai sutra yang menjadikan cinta kita dekat dan rekat..........

